[] Bilik Menulisku

Rabu, 18 September 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Tugas


Siang ini suhu udara panas sekali. Dengan deadline tulisan yang seakan mengejar, Rara jadi merasa penat. Lelah dengan kesibukan yang seakan itu-itu saja --walau jauh di lubuk hati ia menikmatinya. Lalu, seperti biasanya saat sedang butuh dukungan, pikirannya langsung tertuju pada Jaka. Diambilnya telepon genggam dan segera mencari sebuah nomor. 

"Aku capek," ia merajuk. "Perasaan kerjaan kok begini aja, ya?"

"Begini aja, gimana?" di seberang sana, Jaka menjawab dengan sabar. Kebetulan ia sudah selesai makan siang, jadi bicaranya diselingi suara pemantik yang membakar rokoknya.

Kamis, 29 Agustus 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Niat dan Distraksinya


Sudah beberapa hari ini Rara uring-uring tidak jelas, padahal tidak sedang PMS. Ia jadi lebih gegabah sekaligus malas memberdayakan diri alias mager, dan pastinya moody. Jaka tidak terlalu menyadari perubahan itu, sampai malam tadi ia pulang ke rumah dan melihat hal-hal yang tak kasat mata...

"Sudah bisa hening lagi, sekarang?" tanya Jaka sambil membawakan Rara sarapan ke tempat tidur. Sudah seminggu ia meninggalkan istrinya itu untuk tugas di luar pulau, sampai kurang memperhatikan energi lain yang berkeliaran di sekitarnya...

Jumat, 09 Agustus 2019

Fiksi Rara & Jaka, Tentang Belajar Spiritual


Rara sedang tidak enak badan. Sudah beberapa hari ini cuaca menggembleng fisiknya dengan naik-turunnya suhu udara yang cukup drastis. Siang bisa jadi sangat panas, dan malam bisa jadi sangat dingin. Untungnya Jaka sedang tidak ada tugas ke luar, jadi ia bisa menemani istrinya yang tambah manja kalau sedang sakit.

"Aku ga bisa napas..." Rara merengek. Ia cepat-cepat mendekat pada minyak kayu putih untuk meredakan kedua lubang hidungnya yang tersumbat.

Jaka tersenyum saja melihatnya. Setelah itu, ia menyuapi istrinya sup krim asparagus yang hangat lagi sampai habis.

Jumat, 26 Juli 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Sebuah Ilmu


Siang tadi panas, begitu juga dengan hati Rara. Ia sedang kesal kepada seorang teman, yang selalu meminjam barangnya tapi selalu juga lupa tidak mengembalikan. Lupa, atau pura-pura lupa, Rara sudah tidak mengerti lagi bedanya. Dalam kekesalannya, ia mengadu pada Jaka. Untungnya, sang suami yang biasanya tidak mudah terusik, kali itu mendengarkan ceritanya dengan sungguh-sungguh.

"Ini sudah yang ke berapa kalinya, Ra?" tanya Jaka sambil tetap mempertahankan ketenangannya. "Bukannya dia sudah sering begitu? Kamu ngga melarang dia meminjam lagi?"

"Waktu itu aku terpaksa meminjamkan," Rara membela diri. "Masa orang ngga boleh pinjem payung saat hujan..."

Senin, 01 Juli 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Berdoa


Sore ini Rara menjemput Jaka di Bandara. Suaminya itu baru menyelesaikan sebuah tugas di pulau seberang selama dua minggu lebih. Betapa rindunya Rara, terlebih karena ada hal-hal yang mengusik pikirannya selama beberapa hari ini. Sedang Jaka bukannya tidak rindu juga, hanya saja ia lebih pintar mengendalikan perasaan.

"Gimana kabarnya?" Jaka tersenyum sambil memandangi istrinya yang nampak cantik dalam atasan dan bawahan berwarna senada.

"Kangeeen," serta merta Rara memeluk suaminya. 

Jumat, 28 Juni 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Pasrah


Siang ini terasa sangat panas dan lembab. Musim pancaroba yang peralihan ini sedang menemani Rara mengerjakan tugas kantornya yang njelimet, hingga isi kepala Rara seperti mau meleleh, karena lelah dan panas. Apalagi, tugasnya itu sudah mepet deadline, membuat semuanya jadi semakin menyengsarakan.

"Aku pasrah aja deh, mau hasilnya gimana juga," Rara mencurahkan isi hatinya pada Jaka.

Sang suami itu masih di luar kota dan sedang sibuk juga, tapi ia tetap menyediakan diri untuk mendengarkan cerita Rara. 

"Katanya kepengin tugasnya bagus, biar jadi role model buat cabang lain..." suara Jaka terdengar seusai mengembuskan asap rokok.