[] Bilik Menulisku

Senin, 01 Juli 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Berdoa


Sore ini Rara menjemput Jaka di Bandara. Suaminya itu baru menyelesaikan sebuah tugas di pulau seberang selama dua minggu lebih. Betapa rindunya Rara, terlebih karena ada hal-hal yang mengusik pikirannya selama beberapa hari ini. Sedang Jaka bukannya tidak rindu juga, hanya saja ia lebih pintar mengendalikan perasaan.

"Gimana kabarnya?" Jaka tersenyum sambil memandangi istrinya yang nampak cantik dalam atasan dan bawahan berwarna senada.

"Kangeeen," serta merta Rara memeluk suaminya. 

Jumat, 28 Juni 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Pasrah


Siang ini terasa sangat panas dan lembab. Musim pancaroba yang peralihan ini sedang menemani Rara mengerjakan tugas kantornya yang njelimet, hingga isi kepala Rara seperti mau meleleh, karena lelah dan panas. Apalagi, tugasnya itu sudah mepet deadline, membuat semuanya jadi semakin menyengsarakan.

"Aku pasrah aja deh, mau hasilnya gimana juga," Rara mencurahkan isi hatinya pada Jaka.

Sang suami itu masih di luar kota dan sedang sibuk juga, tapi ia tetap menyediakan diri untuk mendengarkan cerita Rara. 

"Katanya kepengin tugasnya bagus, biar jadi role model buat cabang lain..." suara Jaka terdengar seusai mengembuskan asap rokok.

Selasa, 25 Juni 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Pusaran Energi


Siang ini Rara mendengar sebuah kabar kurang mengenakkan di salah satu grup wa-nya. Seorang anggota grup dinyatakan hilang, saat sedang dalam perjalanan menuju tempat kerjanya di pelosok hutan sana. Rara tidak begitu kenal baik dengan orangnya--itu memang grup tentang sebuah pekerjaan yang jarang dikunjunginya-- tapi tentu saja ia ikut khawatir.

"... sejak itu ngga terlihat lagi," lapornya pada Jaka. "Aku jadi sedih, kamu tolong liatin doong."

"Namanya siapa?" tanya Jaka kalem. Ia sedang di luar kota lagi, mengerjakan beberapa tugas.

Jumat, 14 Juni 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Wish and Command


Jaka sedang tugas di luar kota lagi. Di luar pulau, malah, membuat Rara semakin merasa suaminya itu jauh dari jangkauan. Padahal sudah dua hari ini ia sedih dan kepengin dipeluk sambil ditenangkan. Tapi kadang-kadang Jaka bukanlah suami yang menyenangkan, terutama dalam hal menenangkan...

"Disuruh eling melulu," Rara merajuk. "Orang lagi pengin disayang-sayang, malah dikasih wejangan."

Di ujung sana, Jaka sebenarnya tertawa geli. Namun ia tetap membalas dengan sepenuh sadar agar Rara belajar.

"Sampai kapan kamu mau disenang-senangin terus?" tanyanya. "Aku kan bukan tipe yang membujuk-rayu dengan banyak lisan yang melenakan..."

Jumat, 31 Mei 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Cinta


Hari ini disepakati sebagai hari cuti bersama. Seluruh masyarakat Indonesia bergembira ria mendapatkan tambahan liburan, tapi tidak demikian halnya dengan Jaka. Karena panggilan tugas mendadak, ia terpaksa harus berangkat siang ini ke luar pulau. Dan Rara sedih sekali karenanya.

"Tidak bisakah ditundah sampai setelah lebaran?" tanyanya dengan wajah memelas. Gelengan kepala Jaka membuatnya tambah melas.

"Mereka sedang membutuhkanku, Ra," Jaka memintakan maklum. "Kalau tidak sedang darurat begini, aku kan bisa saja menolak."

"But I also need you..." Rara hampir menangis. Mudik mereka memang hanya jalur darat, dan waktunya bisa fleksibel, tapi hari libur raya tanpa Jaka akan sangat berbeda.

"Not as much as they do..." dengan senyum penuh permohonan, Jaka menatap istrinya. Ia juga ingin menghabiskan liburan bersama Rara, tapi tugas ini harus dilakukannya.

Kamis, 30 Mei 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Setting Ulang Bumi


Hari ini libur. Jaka mengajak Rara ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa keperluan hari raya. Untuk mereka sendiri tidak banyak, pasangan ini tidak terlalu suka berlebih, tapi Rara sudah menyiapkan daftar panjang untuk tanda kasih ke keluarga besar. Dan itu banyak...

"Jangan lupa bawa tas belanja sendiri," Jaka mengingatkan.

"Sudah," sahut yang diingatkan. "Aku bawa semua. Mudah-mudahan yang lain juga berlaku sama."

"Ngga usah mengharapkan orang lain, biasanya akan ada emosi yang bermain di dalamnya," Jaka menimpali. "Mulai dari diri sendiri dulu saja."

"Ya kan sudah," Rara membela diri. Belum-belum, emosinya sudah ikutan muncul.