[] Bilik Menulisku

Senin, 18 Februari 2019

Fiksi Rara & Jaka, Tentang Kekosongan


Sudah beberapa hari berlalu sejak Rara mengalami sebuah peristiwa aneh namun menakjubkan dalam hidupnya. Saat ia merasa hilang, lebur dalam lautan energi jagad raya. Sirna, namun ia tetap bisa melihat segalanya. Sungguh itu adalah pengalaman menegangkan sekaligus damai yang luar biasa.

"Sayang..." Rara memanggil suaminya. "Bisa jelasin lagi kah, tentang sirna diri itu?"

"Hm?" jawab Jaka bergumam. Ia baru saja memejamkan mata, bersiap untuk tidur. 

"Jangan bobok dulu dong..." Rara merajuk. "Jelasin..." ia mulai menggoyang-goyang tubuh Jaka.

Mau tidak mau, Jaka jadi terbangun lagi. "Begini..." katanya, lalu minum beberapa teguk air sebelum melanjutkan.

Kamis, 14 Februari 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Sirna Diri


Saat itu sore menjelang malam. Jaka menggandeng tangan Rara, berjalan menuju sebuah tempat makan yang berada di kawasan Dago atas. Sebuah resto-cafe yang sangat disukai Rara, karena letaknya di atas bukit, dengan sebuah neon sign berbentuk hati besar berwarna merah di halamannya. 

Hujan rintik-rintik menemani mereka, membuat cuaca daerah atas yang sudah dingin menjadi semakin dingin. Rara sedang merapatkan syalnya dengan tangan kiri, sementara sebelah tangannya ada dalam genggaman Jaka, ketika hal itu terjadi... 

".........." Rara tiba-tiba terdiam. Kedua kakinya terhenti, matanya tidak berkedip, bahkan bernapas pun ia tidak ingin. 

Jaka yang berjarak satu langkah di depan Rara jadi ikut terhenti, karena tangan kirinya menarik sesuatu yang tidak mau ditarik. 

"Ra?" tanyanya bingung. "Ayo jalan, hujan."

Selasa, 12 Februari 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Hidup yang Bermimpi


Jaka dan Rara baru selesai bermain hujan, di sebuah cafe di daerah atas Bandung yang dingin nan syahdu. Keduanya sudah berganti pakaian, dan sedang menikmati minuman hangat mereka di teras belakang cafe. Rumput ada sejauh mata memandang, dan perbukitan khas Lembang adalah latarnya. 

"Dingin, ya?" Jaka meraih tubuh Rara yang sedikit menggigil agar lebih dekat dengan tubuhnya.

"Surya Mudra," kata sejoli itu berbarengan.

"Iya..." lanjut Rara sambil memperlihatkan pose jarinya di sebelah tangan, sedangkan tangan yang lain membawa gelas Bandrek ke bibirnya. Setelah menyisip minuman hangat itu, ia meringkuk nyaman dalam dekapan suaminya.

Jumat, 08 Februari 2019

Fiksi Rara & Jaka, Tentang Naluri


Siang ini hujan lagi. Padahal Jaka sedang mengajak Rara untuk makan siang di daerah atas, untuk menikmati panorama Bandung yang indah, berbukit dan berlembah. Tempat makannya memiliki area taman yang luas. Rumput menghijau, mengalasi pepohonan yang besar-besar, entah sudah berapa puluh tahun umurnya. Rara ingin sekali berlari menembus hujan, untuk memeluk pohon dan tiduran di karpet rumputnya.

"Kamu bukannya baru sembuh..? Jaka mengingatkan. 

"Iya siy.." jawab Rara separuh melamun. "Tapi hujannya bikin pengin basah-basahan..." rengeknya.

Rabu, 06 Februari 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Kedalaman


Sore itu berudara lembab. Hujan baru saja turun membasahi bumi, dan wangi tanah juga rerumputan masih menguar dengan segarnya. Jaka mengajak Rara duduk-duduk di depan, sambil membantu lagi kesembuhan kaki istrinya yang ketumpahan air panas itu dengan Reiki. 

"Kok ada saja, ya, yang tega membicarakan di belakang, padahal berhubungan dekat?" tanya Rara sambil meletakkan ponselnya. Hatinya jadi ikut gundah, tapi segera dikembalikannya kesadaran agar tidak larut dalam emosi.

"Membicarakan di belakang gimana?" Jaka memulai sesi terapinya dengan meletakkan kaki Rara di pangkuannya. Lalu, ditaruhnya kedua tangan dengan jarak yang cukup, dan mulai menjadi perantara energi alam yang berlimpah untuk mengobati.

Senin, 04 Februari 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Ikan dan Air


Hari ini lumayan menjadi hari yang dirasa menyebalkan oleh Rara. Pagi tadi Rara menemukan sebagian dari hasil tulisannya hilang. Sudah beberapa lama ia mengerjakan tulisan itu, dan kemudian raib begitu saja. Lalu siangnya, kakinya tersiram air panas, yang langsung dialirinya dengan air keran, untuk mencegah lepuh. Jaka juga membantunya dengan menyalurkan Reiki -energi alam yang tersedia dalam jumlah tak berhingga, yang selalu sedia diambil kapan saja untuk membantu para makhlukNya. 

"Sial terus hari ini..." Rara melihat suaminya dengan pandangan tidak berdaya. Air matanya sudah hampir menetes, mengungkapkan kekesalannya yang tak terucap.

"Ngga usah nangis, dong..." Jaka tersenyum. Dipeluknya sang istri, agar ketenangannya menular, sambil tetap meletakkan tangannya pada jarak yang cukup di atas kaki Rara. Biasanya hangat, tapi kali itu terasa agak dingin dan menggelitik.