[] Bilik Menulisku

Rabu, 22 Mei 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Menyadari Lakon


Hari masih pagi saat Rara dan Jaka duduk santai berdua di depan tv. Dari sebaran-sebaran di grup pesan instan, mereka sudah mendengar tentang kabar kerusuhan di Jakarta. Dengan sedih, Rara menyaksikan beritanya sambil menyandarkan kepala pada Jaka. 

"Kenapa ya, harus ada seperti ini?" tanyanya separuh menggumam.

Jaka tersenyum mendengarnya. "Kenapa ngga?" ia balas bertanya.

"Loh??" Rara sontak mendongakkan kepala. "Kenapa ngga harus ada kerusuhan, maksudmu?"

"Ya, kalau sesuatu harus terjadi ya terjadi, Ra..." jawab Jaka penuh sabar. "Sederhana saja kan, sebenarnya?"

Jumat, 17 Mei 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Ego dan Egois


Siang ini panas, walau awan-awan sudah mulai berarakan untuk memberitakan bumi Parahyangan bahwa ia akan kedatangan sang hujan. Rara masih menunggu jam mengajarnya tiba selepas tengah hari nanti, jadi ia duduk-duduk saja sambil membaca majalah, sampai tetiba telepon genggamnya berbunyi...

"Halo..." Rara menyapa suaminya.

"Yaa..." yang disapa menjawab.

"Kenapa?" tanya Rara dengan tak melepaskan pandangan dari majalah.

"Hm? Ngga... Ngga ada apa-apa," jawab Jaka lagi.

Rabu, 15 Mei 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Batin Jernih


Malam ini rasanya damai sekali. Jangkrik kembali berderik setelah hujan mereda, menyisakan wangi tanah yang lembab diguyurnya. Jaka dan Rara ikut mendinginkan badan di teras depan, sambil menikmati sekoteng panas yang baru dibeli dari tukang yang lewat.

"Hahaha, ada-ada aja," Jaka tetiba tertawa-tawa membaca sebuah pesan di hapenya.

"Kenapa?" Rara bertanya. Tapi ia tidak menunggu jawabannya, melainkan langsung mengambil gawai suaminya itu.

Pasrah, Jaka memilih untuk menikmati lagi sekotengnya.

"Siapa ini?" kening Rara berkerut. "Kok ngomongnya gini?"

Senin, 13 Mei 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Tanah Surga


Siang ini begitu panas. Matahari seakan tidak ingin menyia-nyiakan tugasnya yang hanya setengah hari saja untuk menyinari separuh planet yang ada Indonesianya. Jadi ia membanjiri bumi Nusantara dengan sinarnya yang melimpah ruah, sebelum awan-awan berdatangan dan membuatnya tertutup. 

"Rasanya ingin tidur-tiduran di kulkas," Rara menelepon suaminya yang sedang tugas di luar kota. 

"Ya udah sana..." yang ditelepon memberi saran.

"Yee..." sahut Rara sambil tertawa.

"Kalau ngga, tidur-tiduran di lantai saja," Jaka berkata lagi. "Sekalian grounding."

Kamis, 09 Mei 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Persepsi dan Realita -bagian 2


Malam sudah menjelang. Langit yang cerah memamerkan hiasannya berupa bintang-bintang yang berkelipan. Beberapa bintang terlihat berkelompok, walau samar-samar saja terlihatnya, membentuk rasi-rasi yang darinya bisa dipelajari banyak sekali hal tentang kehidupan. Mereka bahkan ada di sana untuk membantu manusia membuka rahasia-rahasia alam...

"Kalau semua harus dipandang secara netral saja, berarti aku ngga boleh bilang bintang itu cantik, dong?" tanya Rara.

"Yang mengharuskan itu siapa?" Jaka bertanya balik dengan geli. 

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Persepsi dan Realita -bagian 1


Sore yang cerah. Rara dan Jaka bergandengan tangan saat mereka menyusuri jalan setapak di taman depan. Masih ada sekitar satu jam menjelang berbuka puasa, dan mereka memilih ngabuburit sambil membawa beberapa bungkus Samosa. Gorengan khas India masakan Rara itu mau dibagikan kepada para musafir yang lewat. 

"Aaaaw!" Rara menjerti dan berlari menjauh. Seekor belalang besar yang tetiba hinggap di depan mereka yang membuatnya demikian. 

Jaka tidak ikutan kaget --rasanya hampir tidak ada yang bisa membuatnya terkejut. Jadi ia tertawa saja, dan menghampiri istrinya untuk kembali berjalan.