[] Bilik Menulisku

Selasa, 08 September 2020

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Do What You Love


Sore itu, Rara dan Jaka menghabiskan waktu bersama di teras rumah. Nyaman sekali senja itu, keduanya berbincang ditemani sepiring singkong rebus dan teh hangat. Menyaksikan gelap yang hampir merenggut mentari dari langit, namun larik-larik cahayanya yang menerobos dedaunan tetap berusaha menyentuh tanah. Menghangatkan bumi, sehangat hati Jaka saat melihat tanamannya bermekaran...

"Yang itu sudah mulai berbuah," ia memberitahu Rara. "Padahal katanya tanaman itu susah berkembang di sini."

"Yang mana?" Rara memanjangkan lehernya, mencari-cari yang dimaksud. 

Jaka berdiri, lalu berjalan menuju pohon buah dari negeri seberang yang ditanamnya di halaman kecil mereka. "Ini..." katanya sambil berjongkok di sebelahnya. 

Dibelainya daun-daun pohon ramping itu sepenuh kasih, sambil memandangi buah-buah kecilnya yang baru bermunculan dengan tatapan sayang. 

Dari belakang, Rara melihat sang suami dengan ketakjuban. Ia sendiri kurang bisa dekat dengan tanaman. Nyaris tidak ada yang dapat dilakukannya dengan entitas jenis tumbuhan itu, kecuali mengagumi bunga-bunga, menikmati buahnya, dan sesekali memeluk batangnya. Memeluk pohon memang menjadi keasyikan tersendiri, mengingat tanaman itu senyatanya memancarkan energi yang bisa membantu mengisi-daya. 

Tapi Jaka sungguh berbeda. Ia sangat terampil memelihara tanaman. "Bertangan dingin", begitu istilahnya bagi mereka yang mampu menjalin kedekatan khusus dengan makhluk berakar-batang-daun itu, sehingga apapun yang ditanam pasti tumbuh sehat dan indah. Jaka begitu betah berlama-lama di halaman, bercengkerama dengan berbagai tumbuhan, sambil membagikan kasihnya kepada mereka. Rara memperhatikan apa yang terpampang di depan matanya dengan saksama.

"Begitulah yang namanya peran dan misi, yaa..." Rara bergumam. "Dan kangmas memang salah satu cetak birunya ya di sana."

"Gimana gimana?" yang diomongi datang dan duduk kembali di kursi teras. Diambilnya sepotong singkong rebus kesukaannya, lalu dilahapnya dengan nikmat.

"Yaa... gitu," Rara menyeruput teh manisnya. "Pada dasarnya, manusia hidup hanya untuk mengenali cetak birunya, apa yang dirancangkan untuknya. Karena..."

"Karena..?" Jaka mengulangi kata itu sambil mengunyah.

"Karena jika sudah mengenali apa yang menjadi bakat dan kemampuannya, maka seseorang dapat menjalani hidupnya dengan lebih berarti," Rara menjawab. 

Mengetahui bahwa istrinya pasti akan meneruskan omongan, Jaka diam saja. Alih-alih menyahut, diambilnya sepotong singkong lagi untuk menyenangkan perutnya yang lapar.

"Lebih berarti, karena orang itu akan menunaikan misinya, mengemban tugasnya dengan riang dan sepenuh hati." Betul saja, Rara meneruskan lagi omongannya. 

"Apalah artinya hidup, jika sepanjang waktu harus mengerjakan hal-hal yang tidak disukainya, lalu mengeluh terus mengenainya?" Rara berkata lagi. "Lakunya tidak akan bermakna, aktivitasnya akan terasa seperti kewajiban, membuat jiwa terkekang lalu tanpa sadar energi negatif menguar darinya, mengotori Semesta..."

Mendengar itu, Jaka jadi sedikit tersedak. Diseruputnya teh manisnya banyak-banyak untuk membersihkan tenggorokan.

"Mengotori Semesta gimana..?" tanyanya setelah kembali nyaman.

"Bukankah sejatinya keberadaan kita itu hanyalah untuk saling memancarkan kasih?" yang ditanya balas bertanya. Setelah itu, Rara terdiam sendiri. Terngiang lagi sebuah pesan dalam satu sesi heningnya berbulan lalu. Memang begini saja kerjamu. Hening dan berbagi kedamaian.

"Ra? Halo?" Jaka menjawil telinga istrinya, yang lalu menggelinjang geli karenanya.

"Kalau orang sudah paham rancangan agung atas dirinya, maka ia akan bergerak berdasar itu," Rara menepis tangan suaminya yang jahil. "Yang bakatnya main gitar maka ia akan mendalami alat musik itu sepenuh hati. Begitu tulusnya, hingga ia tidak lagi peduli apakah permainannya ditonton orang atau tidak, ia bahkan akan rela mempersembahkan kemampuannya dengan gratis tanpa dibayar."

"Kalau ngga dibayar, lalu dapat penghasilan dari mana?" tanya Jaka dengan logikanya. 

"Lalu di sanalah hukum alam-Nya bekerja," jawab Rara sambil tersenyum. "Saat kita mempersembahkan kebisaan dengan segenap ketulusan, saat kita mengembalikan lagi apa yang menjadi anugerah kita kepada seluruh keberadaan, saat itu juga alam mengganjarnya dengan balasan yang caranya tidak bisa bahkan tidak perlu dipikirkan."

Jaka terdiam sejenak, lalu ikut tersenyum. Disisipnya lagi teh manisnya yang sudah tidak hangat. Cuaca sudah mulai dingin, seiring dengan malam yang mulai datang. 

"Kita hanya menarik apa yang sesuai dengan kita, bukan? Semesta kan bak cermin. Ia bertugas mewujudkan apa adanya kita. Yang terpancar dari kita akan menarik yang persis sama," lanjut Rara. "Jadi, apa kira-kira yang akan ditarik dari ketulusan dalam memainkan sebuah peran di bumi, dalam menunaikan sebuah misi yang sesuai dengan cetak birunya?"

"Dan..." Jaka balik bertanya, "...apa yang kira-kira akan ditarik dari keluh kesah dan keterpaksaan dalam menjalankan pekerjaan? Itulah sebabnya kita mestinya bekerja sesuai dengan apa yang kita sukai, bukan?" Setelah itu, dijawilnya lagi telinga Rara, untuk menyatakan sayangnya yang kadang tak terucap lewat kata.

Rara terkikik geli lagi karenanya, lalu kembali terdiam. Dicernanya baik-baik apa yang menjadi obrolan mereka sore itu, tentang do what you love, tentang apa yang ditarik karena menunaikannya, sekaligus apa yang dipancarkan dari laku tersebut. Betapa indahnya bumi ini jika dipenuhi dengan orang-orang yang riang gembira dalam pekerjaannya, dan betapa damainya dunia ini karena kasih yang terus menerus terpancar dari hati yang tulus ikhlas dalam menjalankan misinya.

Setelah itu, tiba-tiba ia teringat sesuatu dan beranjak memeluk suaminya. "Seksi tau ngga..." bisiknya bergairah.

"Apanya?" yang dibisiki bingung. Namun tak pelak, ada yang tergugah karena bisikan itu, saking tubuhnya sudah mengenali benar energi yang mengiringinya.

"Kalau kangmas sedang berasyik-masyuk dengan tanaman..." jawab Rara. 

"Ya udah aku ngamar sama tanaman aja, ya?" Jaka menggoda istrinya yang lalu mencubitnya dengan mesra...

********  
Baca lagi kisah Jaka & Rara yang lainnya di: Kumpulan Fiksi Rara & Jaka

Minggu, 02 Agustus 2020

FIksi Rara & Jaka; Tentang Kewelasasihan


Pada jelang sore itu, Jaka dan Rara masih menyelesaikan tugas work from home-nya masing-masing. Sudah berjam-jam, dan penat akhirnya melanda. Tanpa banyak bicara, hanya dalam sekali pertukaran pandang, keduanya langsung saling setuju untuk rehat. Rara lalu beranjak ke dapur, mencari sesuatu untuk menemani teh sore mereka, sedang Jaka meluruskan kakinya sejenak sebelum melangkahkannya ke teras depan.

“Masih sibuk?” Rara melewati suaminya yang bergeming menatap layar gawai. Diletakannya nampan berisi sepiring getuk lindri –kue tradisional berbahan singkong yang ditemukannya di tukang kue langganan yang biasa lewat- dan seteko teh hangat beserta dua cangkirnya. 

“Ini…” yang ditanya menjawab. “Biasa, ada yang cerita…” Setelah itu, diletakkannya telepon pintarnya di meja lalu menyantap hidangannya dengan suka cita. 

Minggu, 26 Juli 2020

Tentang Mengirim Energi Kasih-2



Belakangan ini, Rara dan Jaka sedang sering berjauhan. Ada saja yang harus dikerjakan oleh masing-masing, walau tidak memengaruhi komunikasi mereka. Seperti pagi itu, saat Rara sedang merindu sang suami yang berada nun jauh di sana.

"Just sent you a piece of love..." ia menuliskan pesan.

"Iya," Jaka menjawab. "Kerasa..." Sebuah emoticon tersenyum dibubuhkannya di ujung kalimat.

Rabu, 03 Juni 2020

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Mengirim Energi Kasih


Malam ini Jaka dan Rara sedang terpisah jarak lagi. Seperti biasa, ada tugas luar kota yang harus dikerjakan Jaka, yang sama sekali tidak terpengaruh oleh masalah pandemi yang sedang melanda secara global. Rara, yang sama tidak ambil pusingnya tentang hal itu, setia menunggu saja di rumah. Ada banyak deadline yang harus dikerjakannya juga, salah satunya adalah tugas menulis dari Semesta yang baru saja selesai.

Minggu, 17 Mei 2020

Fiksi Rara & Jaka: Tentang Siwa dan Shakti -2


Malam ini, Jaka dan Rara masih tertahan di beranda depan. Berbincang mengenai Siwa dan Shakti, tentang bagaimana laki-laki terhadap perempuan. Sungguh sebuah isu feminisme yang bisa membangkitkan selera Rara untuk berdebat. Namun seperti biasa, Jaka mampu membuat istrinya mengerti dengan caranya yang menenangkan, berikut dengan godaannya yang menghanyutkan...

"Ya kamu juga sih..." balas Jaka masih tertawa. Digulirkannya pandangan dari atas ke bawah, menyapu seluruh tubuh Rara.

Dipandang seperti itu, mau tidak mau Rara tersipu. Wajahnya memanas, walau ditutupinya dengan pertanyaan galak, "Aku kenapa?"

Fiksi Rara & Jaka: Tentang Siwa dan Shakti -1


Jaka dan Rara, seperti yang lainnya, sudah melakukan banyak kegiatan bersama-sama selama lockdown ini. Termasuk bernyanyi-nyanyi gaje seperti malam ini...

I found a love for me
Darling just dive right in
And follow my lead
I never knew you were that someone 
waiting for me...