[] Bilik Menulisku: Serempak, Kompak bersama Perempuan demi anak-anak di Generasi Millenial

Jumat, 21 Juli 2017

Serempak, Kompak bersama Perempuan demi anak-anak di Generasi Millenial

Kamis kemarin ini, pihak Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan IWITA (Indonesia Women IT Awareness) menggelar acara Serempak Roadshow 2017, di aula mesjid Mujahidin, Bandung. Acara yang bertema ‘Kreatif bersama Serempak, Literasi Digital Generasi Millenial’ ini cukup seru dan ramai, dan tentu saja, banyak pelajaran yang bisa didapat!

Apa itu Serempak?


Serempak adalah sebuah “Portal Interaktif yang memberikan fasilitas diskusi (media komunikatif) terkait pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, yang dipandu oleh pakar-pakar di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.” 

Selama ini, Serempak sudah sangat berperan dalam pemberdayaan perempuan, dengan meyebarluaskan informasi program-program pengembangan, baik yang bersifat government atau non-government. Serempak juga bertindak sebagai wadah kerjasama para penggiat pengembangan sosial, khususnya untuk perempuan dan anak-anak. Selain itu, Serempak pun turut mempercepat pengembangan pemanfaatan teknologi untuk para perempuan.

Serempak memiliki misi untuk 

‘Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan memanfaatkan TIK untuk perempuan, sehingga dapat lebih produktif dalam semua sisi kehidupan sehari-hari.'

Oya, sebagaimana layaknya sebuah portal, Serempak.id juga menerima semua tulisan mengenai perempuan dan anak-anak loh. Yuk, ikut menyumbangkan ide dan saran dalam bentuk tulisan di Facebook page -nya!

Pembicara di Roadshow Serempak 2017

Tamu-tamu yang diundang tentu saja para perempuan yang sudah malang-melintang dalam berbagai program demi memajukan perempuan dan anak. Mereka ini seakan dihadirkan di bumi sebagai utusan Tuhan untuk memberdayakan kaumnya. Layaknya ibu Kartini, tamu-tamu undangan ini berani mengutarakan pendapat dan selalu semangat untuk memajukan perempuan. Para perempuan keren nan hebat itu adalah:

Ibu Mentri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Prof. DR. Yohana Susana Yembise, Dip.Apling, MA

Ibu Yohana datang sebagai pembicara terakhir, namun tentu saja kata-katanya sangat dinanti. Beliau lebih berbicara dalam kapasitasnya bukan sebagai mentri. Mantan dosen Universitas Cendrawasih itu lahir di ManokwariPapua 58 tahun tahun lalu. Beliau adalah perempuan Papua pertama yang sampai di jajaran tertinggi Republik ini.

Sehubungan dengan bidang literasi, ibu Yohana menyatakan kekhawatirannya mengenai segala kemudahan dunia digital saat ini. Mudah, sekaligus juga rawan dengan plagiasi. Sebagai yang pernah mengalami kuliah di masa lalu, beliau paham benar bagaimana rasanya membuat tugas akhir (skripsi atau thesis). Dulu, ibu tiga anak itu sangat menikmati masa-masa membaca buku untuk mencari referensi. Walau harus berjam-jam menghabiskan waktu di perpustakaan, beliau tetap semangat melahap kalimat-kalimat yang membantunya membuat teori-teori baru. Itulah sebabnya ia begitu takut akan kemudahan digital ini. Takut para mahasiswa dengan mudahnya membuat tugas akhirnya berdasar referensi dari internet. Apalagi yang tanpa mencantumkan sumber, sedangkan narasumber penting sekali dalam mendukung teori.


“Bacalah buku, buat teori sendiri, cantumkan sumber.”

begitu beliau berpesan. Semoga generasi millennial kita cukup sadar dan berhati besar untuk mengikuti sarannya, ya!

Ibu Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Infrastruktur dan Lingkungan Kementrian PPPA, Ratna Susianawati SH. MH

Ibu Ratna menjelaskan program-program yang telah dilaksanakan pihak Kementrian dalam hal meratakan jaringan internet di seluruh wilayah Indonesia. Terutama di wilayah timur dan daerah perbatasan, pemerintah turun tangan dalam membangun jaringan-jaringannya, seperti BTS, Fiber Optic, bahkan satelit.

Kita yang berada di wilayah barat memiliki fasilitas yang memadai untuk maju dan berkembang bersama internet, namun ada wilayah-wilayah yang tidak terjangkau oleh para perusahaan operator komersil, hingga kebanyakan dari mereka masih buta karena tidak mengenal internet. Doa kami semua bersama para pemimpin yang senantiasa berdiri di atas sana untuk memajukan rakyat yang di bawah, ya bu!

Para Narasumber

Ibu Ketua Pokja Serempak, Founder IWITA, Martha Simanjuntak, SE. MM

Menurut Ibu Martha, dalam sebuah survey di tahun 2015, perempuan menguasai 51% pengguna internet di Indonesia. Namun demikian, tentu saja kita –perempuan- dituntut untuk selalu bijak dalam penggunaannya, karena kita adalah Madrasah utamanya anak-anak. Internet oleh para perempuan bisa saja digunakan untuk mencari pekerjaan dan menghasilkan uang, atau dipakai untuk mencari berita-berita gossip saja. Internet di tangan perempuan juga bisa digunakan untuk share tips-tips positif seputar dunia wanita, atau hanya dipakai untuk berbagi curhat. Hehehe, perempuan banget yaa! Maka dari itu, Ibu Martha berpesan, antara lain:

Jika sedang marah, buang saja hapenya ke tempat tidur, karena akan cenderung curhat di media sosial. Sebaliknya, jika sedang bahagia, sila share banyak tulisan, karena mood-nya sedang baik. Dan, tolong fokuskan untuk men-share hanya pada kemampuan yang dikuasainya saja (seperti memasak, menjahit, dan sebagainya), daripada meng-copy paste isu-isu tidak jelas. Siap, bu!

Ibu Penggiat Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Founder IIDN dan Sekolah Gratis Bandung, Indari Mastuti

Ibu Indari Mastuti merupakan salah satu perempuan Bandung yang sibuk. Beliau banyak sekali meluangkan waktunya demi pemberdayaan perempuan dan anak. Dimulai dari mendirikan komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis, beliau mengembangkan sayapnya untuk menaungi berbagai komunitas lain yang tentunya melibatkan perempuan dan anak.

Dalam lingkungan rumahnya di bilangan M. Toha, Bandung, beliau berupaya segala cara untuk merangkul segala sisi kehidupan. Tidak berhenti di mengajari ibu-ibu menulis dan membuat buku, ibu Indari juga melirik para dhuafa di sekelilingnya dan mengajak masyarakat untuk berbagi. Selain itu, teteh yang cantik ini juga mendirikan Sekolah gratis, yang turut serta dalam membantu perkembangan anak-anak yang memiliki masalah. SubhanAllah, teh Indari, semoga langkahnya semakin jauh ke depan dan selalu dimudahkan, ya!

Ibu Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung, Andalusia Neneng Permatasari

Ibu Dosen ini bercerita tentang literasi dalam dunia digital. Menurut pandangannya sebagai seorang dosen yang kesehariannya 'bergaul' dengan para mahasiswa/i, kolaborasi begitu penting. Jajaran pengajar juga yang diajar harus saling kerjasama demi menciptakan dunia literasi digital yang mendukung perkembangan generasi millenium.

Beliau juga menampilkan sebuah video mengenai kegiatan si cantik Emma Watson yang suka diam-diam menaruh buku di terminal atau stasiun supaya ada orang yang tertarik, mengambil, lalu membacanya. Buku-bukunya tentu saja kebanyakan tentang feminisme, bidang yang sangat dicintai demi pemberdayaan perempuan oleh sang aktris Hollywood yang berbakat ini. Harapannya adalah semakin banyak perempuan yang suka membaca, lalu mengamalkan bacaan ke seluruh dunia. Ini salah satu bentuk kolaborasi juga, loh! Way to go, adek Emma!

......

Saya senang sekali kemarin dapat kesempatan untuk bertemu dan mendengarkan kisah super women di atas. Sebagai seorang perempuan, dan ibu dari anak-anak yang tidak dapat melarikan diri dari ke-digital-an, saya akan berusaha sejalan dengan yang dipesankan oleh para narasumber yang ahli di bidangnya tersebut. Doa saya ada untuk semua perempuan Indonesia agar lebih bijak dan cerdas dalam berliterasi digital demi generasi millenial yang lebih baik!




Salam,
post signature

9 komentar:

  1. Lengkap banget resume dari kegiatannya mbak, meskipun saya tidak berhadir dalam kegiatan itu, tulisan mbak sudah bisa ditarik kesimpulan dari beberapa narasumber di atas. Terima kasih mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-saa.. Terima kasih juga sudah mampir yaa

      Hapus
  2. Amiiin..hidup perempuan digital millenial!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeaaay! Doaku juga menyertai para relawan TIK Bandung! ^^

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Saya suka pemaparan ibu andalusia, sayang cepet pisan euy. Asa kurang. Ehehehehe. Teh indari aktif pisan ya, produktif banget. Wow contoh tauladan bagus nih perempuan2nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ibu Dosen buru-buru amat jelasinnya yaa.., padahal seru ^^

      Hapus