[] Bilik Menulisku: Berakhir Minggu di Pasar Seni ITB 2014

Senin, 24 November 2014

Berakhir Minggu di Pasar Seni ITB 2014

Pasar Seni ITB adalah salah satu acaranya Kota Kembang Bandung yang sangat saya tunggu-tunggu. Kenapa? Pertama, karena digelarnya cuma empat tahun sekali. Ya, cuma per empat tahunan, kesel ya? But definitely worth the wait, soalnya -ini alasan kedua- seperti namanya, pasar itu isinya barang yang bernilai seni semuah! Saya bukan penggila seni siy, tapi saya pengemar barang bagus. Dan segala yang tersedia, dipajangkan, digelar, dijual-belikan disana ituh, aralus pisan alias bagus-bagus banget! Semua tukang seni, mulai dari pelukis, pemahat, pematung, dan artists lain dari berbagai penjuru tumpah ruah disana, memamerkan hasil karyanya yang luar biasa. Dan kami, para pengunjung, dapat dengan puas memandangi keindahannya. Kenyang, nendang! Salah satunya adalah lukisan mojang geulis, yang saya lupa nanya judul dan pelukisnya ini...





... dan lukisan lucu nan keren ini...


Tidak hanya bisa dipandangi, hasil-hasil karya seni ini juga bisa dibeli. Ya, semua yang dipamerkan itu dijual. Dalam ratusan lapak seukuran sekitar 2x3 meter persegi, berbagai kerajian itu digelar oleh pengrajinnya dengan rapi, seakan saling berlomba untuk menyenangkan mata dan menarik hati ribuan pengunjung yang lewat. Duh, bahagianya mata ini bisa dimanjakan... :) Ini dua stand yang sempat saya abadikan di kamera :

Menjual lukisan dengan frame-frame kecil yang manis...

Asesoris keren yang lucu-lucuuuu! Ini kayaknya saya tau pemilik/pendesainnya...

Sayang, saya hanya sempat berada disana sekitar satu jam saja... Ini karena hari Minggu kemarin, putri saya ikutan lomba Fashion Show yang diadakan oleh sebuah Department Store, dari jam 10 pagi sampai jam 2 siang. Setelah selesai, dengan terburu-buru (tanpa mendengarkan pengumuman pemenangnya), saya dan suami beserta anak-anak meluncur langsung ke jalan Ganesha. Kami tiba di tekape pada pukul... 16.30! Muaceeeettt!! Nampaknya, semua orang tak ingin melewatkan event beli-beli cantik di kampus Tekhnik dan Seni Rupa paling kesohor se-bandung Raya itu deh... Semua jalanan yang mengarah kesana padat hampir tak bisa merayap. Ir H. Djuanda alias jalan Dago, baik dari atas maupun bawah, semua penuh, sampai jalan-jalan kecil disekitarannya pun meluap dengan kendaraan. Mobil dan motor berjejalan di kiri-kanan jalan. Saya datang dari bawah, dan tentunya mencari parkir di jalan-jalan teduh seputar RS Boromoeus. Hasilnya? Sumpek! Ternyata orang-orang sudah pada lalu-lalang berjalan kaki, karena sudah memarkir kendaraannya jauuuh dari Boromeus. Saya telat ngga kebagian lahan secuil pun, dan akhirnya numpang di basement RS. Tak apalah, sekali lagi, sepadan dengan usahanya...

  
Gerbang Institut Teknologi Bandung yang ikonik, dengan bunga mungil-mungil pink-nya 
berhamparan diatas pilar-pilar batu

Sepertinya yang dibelakang itu adalah gajah yang terbuat dari... 
aduh, saya ngga tau euy, ngga sempet baca-baca atau nanya-nanya niy...

Kalau ini saya agak ngerti... Ini seperti kentongan bambu yang dilukis dan dicat kuning,
yang sengaja digantung berjajar untuk latar-belakang berfoto para pengunjung

Selain barang-barang yang dijual, tentu saja Pasar Seni ini punya pertujukkan-pertunjukkan seni. Misalnya panggung-panggung musik yang tersebar di beberapa lokasi, pengrajin yang memamerkan kebolehannya melukis, memahat, dan lain-lain, sampai yang mempertontonkan kebisaannya membuat gelembung sabun...

Gelembung sabun terbesar yang pernah saya lihat...

...hingga udara terbungkus dengan balon-balon wangi seperti ini...

  Bubble shower alias hujan gelembung sabun. Yay!

Kami menyudahi jalan-jalan menyenangkan ini pada beberapa menit menjelang adzan magrib. Bukan cuma karena saya mendengar salah satu panitianya memperingatkan penjaga stand yang sedang kami datangi, "Sepuluh menit lagi tutup ya, beberesnya mulai dari sekarang aja" saja. Tapi juga karena sudah gelaaap! Mendung yang menaungi (sempat hujan juga karena tanahnya basah dan becek di beberapa tempat) menambah suasananya semakin pekat. Lagipula, tentunya yang muslim juga harus segera menunaikan ibadah sholatnya.

Saat mencari jalan keluar, kami ditawari seorang mahasiswa untuk meninggalkan sekedar jejak di sebuah papan putih besar. "Mau nulis ngga?", tanyanya ramah, sambil menyodorkan selembar kertas dan sebuah spidol hitam. Hayuuk! Lalu Kekey menulis kalimat "I love Bandung" yang kemudian ditempelnya bersama tulisan-tulisan lain. Aaah, kami cinta Bandung, cinta Pasar Seni ITB :)    

  
Empat tahun yang akan datang, kita kesini lagi yaa...

8 komentar:

  1. Ih kemarin mau kesana juga sebenarnya namun ada sesuatu hal yg tidak bisa ditinggalkan, ahiw gagal maning deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduuh sayang ya nenk, cuma empat tahun sekali...

      Hapus
  2. Balasan
    1. Iya, Mak... worth it banget disela-sela kemacetan dan kesulitan parkirnya :)

      Hapus
  3. Aku teh udah mau ke sini, da. Tapi hujan gede siangnya. Pulang jam 4 sore dari acara di BIP udah keburu males. Akhirnya pulang saja. hiksss

    BalasHapus
  4. Iya hujan gede teh, kemarin mah ngebelain pisan kesana :)

    BalasHapus