[] Bilik Menulisku: Tersangka Teroris..?

Kamis, 30 Oktober 2014

Tersangka Teroris..?

Seumur-umur, ngga pernah saya mimpi berurusan dengan pihak yang berwajib. Tapi di suatu siang yang benderang, di negeri orang...

Beberapa tahun lalu, saya pernah bekerja di sebuah perusahaan investasi asing. Atau nama kerennya : Offshore Investment Company. Yang nama perusahaannya adalah... Ini saya ngga mau bilang, takut dikeroyok orang se-Bandung Raya. Nanti aja saya ceritain soal itu lagi ya, sekarang saya mau berbagi pengalaman tentang bagaimana rasanya disangkain teroris di negri sebrang.


Namanya mojangan, dan kerja di perusahaan asing, tentu saja I was (under) thirty, flirty, and wealthy (uhuk! batuk...). Saya menjalani hari-hari yang menyenangkan di kantor. Ruangan yang luas dengan pemandangan pegunungan di sisi kiri dan kanan, gedung-gedung di arah depan, dan tembok di belakang. Sampai bapak Direktur Utama yang pernah main ke cabang berkomentar, "Pantesan Marketing Bandung nyantai ya? Pemandangannya indah begini. Ruangan saya aja pemandangannya partisi semua...". Tak henti-hentinya ia melayangkan pandang ke jajaran pegunungan Manglayang dan Tangkuban Perahu nun jauh disana, yang dari lantai 8 tempat kami menyewa ruangan, terlihat sangat menakjubkan. 

Rekan kerja juga asyik semua. Sobatannya sudah seperti saudara saking akrabnya. Para atasan pun sangat membimbing dan menyenangkan (dan suka nraktir, yay!). Dan, oh iya, sebagai ujung tombak, kami para marketing sering dikasih reward yang keren-keren. Mulai dari gadget, sampai travelling keluar negri. Aah, senangnya! Sebagai pegawai, what else could you ask more?

Nah, suatu waktu, saya dan beberapa teman mendapat hadiah berpelesir ke Bangkok, Thailand. Sebuah ibukota negara yang... emh... seperti Jakarta, hehe. Bahkan tipe fisik orang-orangnya pun sedikit banyak mirip orang Indonesia. Berkulit putih dan coklat, perawakan sedang, walaupun bentuk matanya lebih sipit dan pembawaannya agak lebih judes (menurut saya). 


Just like our own Metropolitan City, ada banyak mall besar disana, seperti The Siam Paragon yang mewah, atau MBK yang harganya lebih masuk akal. Ada juga Chatuchak, tempat belanja semi-pasar dimana pedagangnya menggelar barang di sepanjang sisi kiri dan kanan (dalam naungan terpal...). Asyiknya disana, barangnya murah, banyak pilihan, dan masih bisa ditawar. Perbedaan bahasa tidak menjadi masalah, karena tawar-menawarnya mudah saja, hanya dengan bertukar mengetik angka (=jumlah penawaran) di kalkulator. Seorang atasan saya, saking hebohnya menawar, sampai meluapkan emosinya dengan, "Jadina HOW MUCH iyeu teh!?!". Hihihihi....   

Jalanannyaa juga paciweuh (ini bahasa Sunda, bahasa Indonesianya apa ya..?), dan disana banyak tuk-tuk, kendaraan asli Thailand yang kayak bajaj. Dan asli juga, harus ekstra hati-hati kalau naik kendaraan umum ini, karena tidak ada seat belt, dan supirnya kayak para Tokyo Drifter gitu. Yang 'gone in sixty seconds' alias tukang ngebuuut! Sumpah, berasa kayak naik halilintar deh... 

Sesuai jadwal dari tour guide, kami mengunjungi beberapa tempat disana, seperti;


The Reclining Budha Temple


Pattaya Beach


 Dinner Party di...

...disini, di kapal Chao Praya Boat

Dan ngga cuma makan di restoran, kami juga jajan gorengan pinggir jalan seperti ini...

Bu, cireng aya?

Lalu, sampailah kami pada penghujung acara, dan harus kembali ke bandara untuk bersiap pulang. Disinilah, kami hampir ditangkap oleh petugas keamanan karena disangka teroris...

Bandara Suvarna Bhumi

Saya sedang mengantri menuju pintu masuk ruang tunggu, membiarkan yang lain menaikkan koper dan tas ke meja pemeriksaan lebih dulu, ketika salah seorang teman berteriak,

"Hwaduuuh, tolongin gue dooong", Joko (bukan nama sebenarnya) merajuk. Ya, merajuk, karena cowok satu ini memang centilnya beda...

"Kenapa?", saya ikut khawatir. Jangan sampai deh, bermasalah dengan pihak berwajib.

"Itu gue... Itu... Huaaa!", Joko mulai panik ketakutan.

"Itu apa? Yang bener ah! Apaan?", saya menghampiri meja periksa yang dilengkapi dengan kamera x-ray itu. Seorang petugas nampak sedang sibuk meneliti sebuah benda kecil, sementara tiga orang teman saya yang lain mengerubungi.

"Sok, elu aja yang ngomong atuh, bahasa Inggris gue jelek!", seorang teman mundur. Takut ikutan kena masalah. 

Lah! "Ada apaan siy?", tanya saya curiga. 

"What is this?", si petugas bertanya dengan tegas, tanpa basa-basi, ke saya. Saya melirik minta penjelasan ke dua teman yang masih disana. Semua mengedikkan bahunya, lalu ikutan mundur teratur. 

"What IS this?", pertanyaan itu diulangi. 

Saya menelitinya tanpa berani memegang. Bukan apa-apa, takut sidik jari saya tercetak disitu lalu saya ikut masuk dalam jajaran tersangka... *kebanyakan nonton pelem*

Sebuah benda, mirip seperti potongan pisau cutter (pisau ya cutter lah...), tersembul dibalik kain putih. Kain putih itu sepertinya sepaket dengan bilah besi tipis warna kuning itu, menyelimutinya dengan hangat (halah!), dan bukannya sengaja dipakai oleh si petugas untuk memegang (kalo iya, berarti dia juga takut sidik jarinya tercetak :p ).

"Is this a knife?", petugas itu mulai tak sabar dengan saya. 

Saya mengambil napas, dan minta waktu untuk bertanya ke si empunya.

"Itu apa, Ko?", saya geram. "Lo gila ya, bawa-bawa cutter ke bandara? Buat apa?? Mau ngebunuh orang???"

""Bukaaaan!", rajuknya lagi. "Itu... Itu..."

Saya kesal sekali. Bisa kacau kami semua, kalau ternyata cowok centil itu terbukti memiliki benda tajam di dompetnya. Saya pelototi dia dengan penuh harap, agar dia punya jawaban yang cerdas!

"Itu... Besi kuning. Jimat gue, huaaaa huaaaa!", ia mulai menangis dan menutup mukanya dengan kedua tangan.

Saya melongo. Oke, ini sebuah pertanda baik. Berarti dia tidak mungkin berencana membunuh orang. Dan jelas sebuah keluguan (kalau tidak mau disebut bodoh!) murni, yang bisa digunakan sebagai alibi. Nah tinggal ngomongnya aja nih! Seumur-umur belajar bahasa Inggris, saya tidak pernah sekalipun diajarkan kata 'Jimat'. 

"Jimat teh naon siy, bahasa inggrisna?", saya bertanya. Ketiga teman saya menggelengkan kepalanya.

Bagus! Sekarang semua tergantung saya... Bismillah!

"This is... umh... This is...". Sumpah, saya memutar otak, menelisik ke setiap laci perbendaharaan bahasa Inggris saya, kalau-kalau kata itu terselip didalamnya. Nihil. Tidak ada.

Petugas galak itu setia menunggu, walaupun dengan tidak sabar.

"This is a thing, that his great great great grandfather gave him, before he passed away.", saya mulai mengarang indah. Telapak tangan berkeringat dingin, mengingat bahwa keselamatan kami semua ada di mulut saya.

"You know, something that is very sacred, that has been in the family for hundreds of years, that's why it is covered by white blanket..."

Si petugas mulai melunak. Ahamdulillah!

"That could not be used as a weapon, otherwise, he will be cursed!", saya meneruskan cerita. "And because it smells good!". Seingat saya, kain jimat selalu wangi. "You can smell it, c'mon!", saya menganggukan kepala, memintanya untuk mencium benda itu.

Ia menimbang-nimbang sebentar, lalu menaruh benda itu kembali ke meja. Pilihan yang bijak. Mungkin kalau beneran dicium, dia takut kena kutuk. Entahlah.

Terima kasih ya Allah, petugas itu kemudian memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah. Ia menyuruh Joko untuk menyimpan jimatnya kembali di dompet. Bisa jadi, alasan kuat lain, selain takut didatengin kakek-kakek dari alam sana, adalah karena dia melihat muka Joko yang asli kusut. Tanpa dibuat-buat. Matanya merah berair, sayu menyiratkan ketakutan, pipinya yang gemuk putih jadi merona merah seperti kepanasan, dan hidungnya kembang kempis menahan isak. Kalau saja Joko itu cantik, mungkin petugas itu sudah memeluknya untuk menenangkan...

Kami berhasil sampai di Bandung dengan selamat, sambil masih sedikit terguncang. Keesokan harinya di kantor,

"Ko, lain kali, kalo minta jimat itu boneka gantungan kunci aja. Biar bisa ditaro di tas, ngga membahayakan!", seorang teman mengajak bercanda.

"Atau minta susuk berlian aja! Jelas ngga mungkin disangka teroris!", timpal yang lain.

"Sembarangan! Berlian mah banyak di muka gue!", yang dibercandai mulai gusar.

 "Bagus! Nanti kasus elo bukan tersangka teroris, tapi penyelundup berlian!", yang lain menyahut.

Bhahahahaha! Ada-ada saja! Namun, ada satu yang jadi pertanyaan tak terjawab,

"Tapi... Kok di Soekarno-Hatta, pas berangkatnya, besi kuning gue ngga kedeteksi ya??"

Hmm, mungkinkah metal detector di Indonesia sudah paham dan memaklumi, mana yang benar-benar senjata tajam, dan mana yang jimat?? Entahlah... 

"Laaaah! Kok ilaaang! Aduuuh, kemana besi kuning gueee? Bisa gawat nih, hidup gue tanpa jimat satu ituuu!" teriak Joko panik. Ia mengeluarkan seluruh isi dompetnya yang besar di atas meja. "Mati deh gue! Emang katanya kalo sampe dipegang orang lain, dia pergi! Kok bisa ya ngambekan gitu..."

Ah! Tau ah!! Ngga ikutan!!!

12 komentar:

  1. Jimat nya untuk apa ya mas Joko? :D

    BalasHapus
  2. Buahahaaa...kocak banget yak si Joko :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hooh, Mbak, bocah kuwi yo neko2 kok, bawa2 senjata tajam ke bandara, hehe

      Hapus
  3. hahahaha kocak benerr tapi emang syerem kalo di negara orang di sangka teroris qiqiqi

    BalasHapus
  4. hahahaaa...ada-ada aja ya ke LN pake bawa-bawa jimat. bukannya di sana malah jimatnya lebih ajaib-ajaib?

    BalasHapus