[] Bilik Menulisku: Drama Antara Bisul, Gigitan Serangga, dan Tempra

Sabtu, 30 Desember 2017

Drama Antara Bisul, Gigitan Serangga, dan Tempra


Jumat lalu, Raynor, anak laki-laki saya melapor. Lengan kiri bagian dalam, sedikit di atas siku bentol, katanya. Saya segera memeriksanya, dan melihat bahwa bentolnya bukan sekadar digigit nyamuk biasa. Agak lebar dan memerah. 

"Wah, ini bisul, dik!", kata saya sedikit khawatir. Saya belum pernah bisulan, tapi menurut teman, tetangga, bahkan ayahnya anak-anak, bisul itu sakitnya bukan main. Tidak sengaja tersentuh saja rasanya sudah bikin nyut-nyutan.

Segera saya foto dan beritahukan ke suami. Ia berpesan untuk tidak khawatir berlebih, dan meminta untuk mengoleskan bawang putih, sebelum bertambah besar. Saya pernah dengar mengenai khasiat bawang putih yang anti septik itu, jadi saya segera mengoleskannya walaupun Raynor protes keras sambil menahan sakit dan bau.


Keesokan harinya, si bisul tampak bertambah besar, dengan bintik putih di tengahnya. Lagi-lagi, saya dan suami berasumsi, bahwa bintik itu adalah 'mata bisul'nya, yang akan segera masak dan pecah. Tapi anehnya, suhu badan Raynor naik. Hanya sedikit hangat, tidak sampai demam yang di atas 38 derajat Celcius. Katanya, bisul tidak membuat demam, walau ada pendapat lain yang mengatakan bahwa jika bisulnya besar ya bisa jadi demam.

Karena kami sudah merencanakan liburan di rumah Pekak-Nini (=Kakek-Nenek, bahasa Bali), maka saya dan anak-anak berangkat ke Jakarta. Ayahnya anak-anak ditinggal karena masih ada pekerjaan, dan akan menyusul Sabtu depan. Kami berangkat dengan Raynor yang sedikit demam.

Namanya anak-anak, bertemu dengan Kakek-Nenek tentu sangat menyenangkan. Raynor dan Kayla, kakaknya, semangat bermain dan berbagi cerita bersama dua orang berambut kelabu kesayangan itu. Anak lanang yang berusia 6 tahun 10 bulan itu pun riang gembira, walaupun tangan kiri yang ada bisulnya itu selalu dalam posisi terbuka ketiaknya. Ini keanehan kedua pada Raynor yang saya abaikan, sampai....

"Kok menggigil, ya?", bathin saya bertanya saat Raynor tidur sambil kedinginan di malam ke tiga. Ya, saya 'membiarkan'nya dengan bisul dan demam rendah yang muncul-hilang sampai malam ke tiga. Hiks! Pengabaian yang sebenarnya memiliki harapan bahwa (seperti kata orang-orang), bisul akan sembuh dengan sendirinya. Lagipula, saya mengoleskan salep khusus yang direkomendasikan oleh teman yang seorang Apoteker. Benjolannya memang mengempis, tapi....

"Ya ampun, ini sih digigit serangga, bu! Lihat nih, racunnya sampai menjalar ke ketiak!", kata bu Dokter yang kami kunjungi pada hari ke empat. Saya terhenyak, dan merasakan keringat dingin bermunculan seiring dengan imaji-imaji menakutkan mengenai racun di dalam tubuh Raynor. 

"Itu bukan bisul, Dok?", tanya saya di antara kepanikan.
"Oh ya, itu semacam bisul juga. Ada nanah di tengahnya. Tapi akibat gigitan serangga. Racunnya menjalar menuju kelenjar getah bening terdekat, yaitu ketiak."

Kalau tidak ingat bahwa saya sedang berada di ruang praktik Dokter, dan bila saja suami ada di sana, saya pasti sudah menangis tersedu-sedu. Teringat betapa buruknya sikap saya sebagai ibu, yang mengabaikan demam anaknya selama tiga hari, dan tidak mengetahui sama sekali tentang bengkak di ketiaknya. Saya memang menyekanya setiap hari (mengingat si anak masih demam dan takut tambah parah bila dimandikan), tapi karena ia mengeluh ketiaknya sakit, maka bagian tubuh yang satu itu disekanya sendiri olehnya dengan hati-hati. Saya hanya memperhatikan saja, tanpa mengerti bahwa ada racun serangga di sana.

"Ayo siapkan ini dan itu!", bu Dokter segera meminta perawatnya dengan bahasa medis yang tidak saya mengerti. Yang saya tahu bahwa satu: pasti akan serius, karena dokternya meminta saya untuk memegangi tangan dan kakinya agar tidak memukul atau menendang. Ya Allah, mau diapakan anak saya?

Lalu, sepuluh menit berikutnya adalah yang terlama dalam hidup saya. Saya dua kali mengalami operasi Caesar, dan setiap saat perawat masuk ke ruang pasca operasi untuk 'memeras' perut saya agar keluar sisa-sisa lahiran padahal bekas jahitan masih nampak merah, saya pikir sudah sangat menyiksa. Tapi memegangi Raynor sementara bisulnya disedot agar keluar racunnya lebih mengiris-iris hati!

Tidak cukup sampai tindakan penyedotan saja, yang berikutnya dilakukan oleh bu Dokter dan perawatnya adalah menginjeksi bisulnya dengan obat. Saya melihat Dokternya mengisi obatnya ke dalam alat suntik, yang langsung membuat saya berkeringat dingin. Jarum itu akan masuk ke bisulnya Raynor kah? Padahal bisul itu sudah berubah, tidak bentol menggunung lagi, melainkan menjadi semacam kawah karena sudah disedot. Kawah yang terlihat mengerikan dengan luka yang menganga hingga daging dan darah nampak jelas.

Saya kembali 'menindih' anak laki-laki kesayangan itu saat obatnya akan diinjeksikan. Kaki saya menahan keras kakinya yang menendang-nendang, tangan saya memegangi kedua lengannya yang bergerak-gerak, dan badan saya berada di atas badannya yang berontak ketakutan. Saya juga menempelkan pipi saya ke pipinya, berusaha membuatnya tidak melihat tindakan medis yang mengerikan itu. Cuma pipi yang saya punya untuk melindunginya dari trauma yang menyakitkan fisik dan bathin.

Untungnya, jarum suntiknya dilepas. Hanya alat suntik berisi obat yang ditancapkan kuat di luka menganga untuk memasukkan obatnya. Raynor menjerit kesakitan lagi dan saya berusaha keras menahannya juga air mata.
Ya Allah, tolong kuatkan kami....

Alhamdulillah, setelah diguyur anti septik, tidak ada lagi proses menyakitkan yang harus dilalui. Lengan Raynor diperban untuk menutupi luka, dan selesailah semuanya. Tidak ada lagi racun serangga yang bersarang dalam ketiaknya, tidak ada lagi bisul yang membuatnya demam selama berhari-hari. Tidak ada lagi, ya Nak!

Tempra, sahabat setia saat anak demam

Omong-omong soal demam, alhamdulillah saya punya sahabat istimewa yang menemani perjalanan Raynor dengan bisulnya itu. Sahabat yang sangat bisa diandalkan, yang mengurangi rasa sakit berdenyut pada lukanya, mengurangi rasa pening kepalanya, serta menurunkan demamnya. Sahabat itu bernama Tempra Syrup.

Anak lanang saya itu punya riwayat kejang ringan. Sejak itu, setiap demamnya mencapai 37,5 derajat Celcius, saya segera memberinya obat turun panas. Semasa bisulnya masih meradang dan racun serangganya masih bersarang di badannya, suhu badan Raynor naik-turun di angka 37-37,7 derajat. Tidak terlalu tinggi, memang, tapi saya tetap harus berjaga-jaga dengan Tempra Syrup.

Tidak hanya baik untuk si anak, namun juga untuk saya, ibunya yang perlu ketenangan bathin saat sang buah hati demam. Entah bagaimana perasaan saya, jika selama anak demam tidak tersedia obat yang mumpuni. Saya butuh sesuatu yang meredakan sakit dan menurunkan panas, tapi tentu saja yang aman. Tempra Syrup memenuhi persyaratan tersebut, karena bekerja sebagai antipiretika pada pusat pengaturan suhu di otak dan analgetika dengan meningkatkan ambang rasa sakit. 

Selain itu, sirup obat demam itu memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut:
1.   Aman di lambung
2.   Tetap larut 100% tanpa perlu dikocok 
3.  Dosisnya tepat, mengandung 160 gram Paracetamol dalam setiap sendok obat atau 5 mlnya
Raynor yang saat ini berusia hampir 7 tahun, dengan berat 23 kg, diberikan satu sendok Tempra syrup yang berjenis Forte. Pas, tanpa resiko kelebihan atau kekurangan dosis.

 Produk Tempra Syrup bisa diperoleh di Apotek
ataupun di toko obat di sekitar kita

Sekarang, anak laki-laki umur 6 tahun 10 bulan itu sedah kembali riang dan aktif. Lengannya masih dibalut perban, namun luka bekas bisulnya sudah mulai mengering. Demamnya juga sudah reda, tidak ada cenut-cenut dan pening lagi seperti yang dikeluhkannya beberapa hari lalu. Alhamdulillah, sehat terus ya Nak!

Dan sekarang, Mamanya juga sudah semakin banyak belajar. Bahwa normalnya, bisul tidaklah menimbulkan demam -walau tentu saja ada kasus-kasus yang juga membuat demam. Pada kasus Raynor, demam yang terjadi adalah karena tubuhnya berjuang melawan racun serangga yang mengendap di ketiaknya selama 4 hari. 

Jadi, kalau lain kali anak itu punya bisul lagi, saya akan lebih memperhatikan perkembangannya. Mengamati baik-baik keganjilan yang mungkin ada. Bila tidak ada demam, berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena alaminya, bisulnya akan pecah sendiri. Tapi jika muncul demam, mungkin ada hal lain selain bisul biasa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Untungnya, selama kemarin ini, Tempra Syrup banyak membantu mengurangi panas tubuh dan nyeri yang timbul karenanya. 


Maafkan Mama karena sempat 'mengabaikan' sakitmu, ya nak. Mama janji, akan lebih memperhatikan berbagai tanda dan kemungkinan saat adik atau kakak sakit. Karena akan selalu ada cinta untuk kalian dari Mama, dan selalu ada Tempra yang membantu menjaga saat ketidaknyamanan melanda.

.......

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.


15 komentar:

  1. Beberapa tahun lalu aku juga ada bisul di paha atas kanan. Dan akhirnya kelenjar getah bening juga ikut bereaksi sebagai bentuk perlawanan imunitas. Pada dasarnya itu reaksi normal.
    Tapi memang dampaknya sakit sekali.... pada saat itu saya kelenjerannya di pangkal paha. Saya susah berjalan. Sakitnya minta ampun... tapi lekas diobati dan sehat 2 minggu tuntas nggak sakit lagi :D
    Terima kasih sharingnya ya mbak... jadi sedikit bernostalgia dan ikut berbagi pengalaman... hihii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Vindy, semoga sharing kita bermanfaat ya. terima kasih sudah mampir :)

      Hapus
  2. Halo mbaaa, aku baru tahu nih kalau bisul akibat gigitan serangga bisa berakibat demikian :(
    Smoga semuanya sehat sehat selalu ya mba

    BalasHapus
  3. Duh, merinding saya bacanya... Alhamdulillsh udah berlalu ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bikin bulu kuduk berdiri banget :( Alhamdulillah sudah sehat :)

      Hapus
  4. Bisa jadi kayak gitu ya mbaa. . aku dulu klo bisulan pas kecil meriang gitu. Ngebayangin saat suntiknya :'( tapi udah sehat kan ya. Sehat2 ya Raynor

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya meriangnya aja udah kasian, apalagi tindakannya, huaa.... Terima kasih tante Ucig ^^

      Hapus
  5. Kasian banget bisa jadi gitu gigitan serangga nya. Tapi alhamdulillah yah semuanya udah membaik. :D

    BalasHapus
  6. Tulisan ini sangat bermanfaat. Senang rasanya bisa berkunjung ke blog ini. Salam kenal sebelumnya.

    BalasHapus
  7. Udah berlalu ya, Teh..
    Semoga kedepan makin sehat dan lebih menjaga daripada mengobati..aamiin....

    BalasHapus
  8. Namanya anak2 ya, Mba. Apalagi anak lelaki yang lebih aktif, mainnya nggak terlihat, jadi kena gigit serangga beracun. Moga adek Raynor mainnya jadi lebih hati2. Sehat2 terus ya :)

    BalasHapus