[] Bilik Menulisku: Fiksi Rara & Jaka; Tentang Lerem

Kamis, 28 Februari 2019

Fiksi Rara & Jaka; Tentang Lerem


Pagi ini sebuah berita membuat Rara terkejut. Satu kenyataan yang meleset dari pengharapan, dan itu -setidaknya bagi Rara- cukup menyakitkan. Entah karena bertepatan juga dengan jadwal tamu bulanannya, yang jelas ia begitu kemrungsung. Uring-uringan, padahal berita itu hakikatnya bersifat netral saja apa adanya. Harapanlah yang membuatnya jadi dipuja atau dicaci.

"Duduk dulu sini, Ra..." pinta Jaka. Ia sudah agak pusing melihat istrinya mondar-mandir, memindahkan sesuatu ke kamar untuk tak lama dikembalikannya lagi ke tempat semula.

"Kayaknya aku harus komplain!" Rara menjawab dengan kesal. "Ngga bisa kayak gitu dong..." sambungnya masih geram.

Tak tahan dengan kenegatifan yang meradian, Jaka mengambil tangan Rara dan diajaknya sang istri itu duduk di sofa. Kalau peka, energi yang negatif memang terasa menusuk.


"Minum dulu ya?" ia menyerahkan segelas air putih yang langsung diteguk separuhnya oleh Rara.

Sambil tersenyum, Jaka mengambil kaki istrinya dan membawanya ke pangkuan. "Pegel ya, mondar-mandir terus dari tadi?"

Rara mengangguk. Ia lalu merebahkan tubuh dan menikmati pijatan yang sangat dibutuhkannya untuk membantu menenangkan.

"Aku harus komplain..." katanya menggumam.

"Nah... ini..." Jaka menghentikan pijatan dan berjalan ke dapur mengambil stoples gula.

Ia kembali juga dengan sebuah sendok, yang dipakainya untuk mengambil gula. "Pegang gelas ini," katanya pada Rara. Lalu, dituangkannya sesendok gula ke dalam gelas yang airnya tinggal setengah itu.

"Perhatikan airnya ya..." Jaka berkata lagi sambil mengaduk-aduk isi gelas. "Apa warna airnya?" ia bertanya.

"Keruh, bercampur dengan gula," jawab Rara. "Tapi semua orang kan tau itu... terus apa?" gumamnya kesal.

Jaka kembali tersenyum. Rara masih nyaman dengan kemrungsungnya. "Perhatikan terus..." ia meminta istrinya untuk bersabar.

Dan Rara menurut. Dilihatnya dua elemen sedang menari bersama. Asyik-masyuk berdansa sesuai ritme yang diberlakukan sendoknya. Lebur, dalam adukan yang kencang, dan pusaran yang cepat membuat air dan gula menyatu hampir tiada beda.

Rara juga melihat bahwa tariannya masih berlangsung, walau sendoknya berhenti mengaduk. Namun alunannya berubah, pusarannya melambat. Lalu perlahan, kedua elemen itu mulai saling menjauh. Air tidak ingin lagi diikat dengan gula, dan gula pun pergi meninggalkan air.

"Gulanya turun," Rara melaporkan pandangan matanya. Ia tau bahwa semua orang juga tau akan hal itu, tapi ada sesuatu yang ia baru tau, yang mungkin tidak semua orang tau...

"Yaa..?" Jaka menunggu lanjutannya dengan sabar.

"Gulanya mengendap dan airnya kembali jernih," yang ditunggu kemudian muncul.

"Lerem," Jaka berkata tegas namun lembut. Khasnya. Sudah itu saja katanya, tanpa penjelasan lebih lanjut tapi ia yakin Rara paham maksudnya.

Dan benar saja, sang istri itu tersenyum mengangguk. "Ya," Rara mewakili penjelasan suaminya. "Lerem, bahasa Jawa yang berarti mereda, anteng."

"Jika pikiran sedang berpusar kencang, maka ia keruh seperti air yang diaduk dengan gula," Rara meneruskan. "Jadi diamlah dulu sejenak, menunggu pusarannya melambat, dan gulanya turun mengendap sehingga airnya, pikirannya, kembali jernih."

Jaka tertawa dan mengambil lagi kaki Rara untuk kembali dipijat. "Ngga baik hasilnya, kalau tindakan berdasar dari kekeruhan pikiran."

Tapi Rara sudah memejamkan mata, meredakan pusaran pikirannya dan menikmati pijatan suaminya. Samar-samar, terdengar sang bayu membawa berita,

"Aja obah yen atimu kemrayah, aluwung meneng nganti atimu lerem." ~ Jangan bertindak saat sedang emosi, lebih baik diam sampai emosinya mereda.

********

Baca lagi kisah kasih mereka di: Kumpulan Fiksi Rara & Jaka

9 komentar:

  1. Suka sama kata-kata ini, Teh.. "Aja obah yen atimu kemrayah, aluwung meneng nganti atimu lerem." Dalam banget

    BalasHapus
  2. Kelepek2 lg klo liat jaka nasihatin rara. Sweeeetttt

    BalasHapus
  3. jaka ini suami idaman banget ya Teh hehehe, bisa ngilangin emosi istrinya dengan cara yang unik.

    BalasHapus
  4. Bener banget ya teh, kalau ada apa2 tunggu pikiran & emosi tenang sebelum bertindak

    BalasHapus
  5. Aku kayak jadi Rara yang riweuh dan suamiku kaya Jaka yang kalem hahha makasih ceritanya mba

    BalasHapus
  6. Baru tahu istilah lerem. Kalau lagi emosi memang jangan ngambil keputusan ya. Btw apa sih yang bikin Rara bete?

    BalasHapus
  7. Lerem. Saya sering banget tuh kayak Rara, kemrusung­čśü

    BalasHapus
  8. Baru tahu apaan lerem. Ini Jaka penuh hikmah bgt yah. Sweet pula. Suka caranya nenangin Rara

    BalasHapus