[] Bilik Menulisku: Fiksi Rara & Jaka, Tentang Kekosongan

Senin, 18 Februari 2019

Fiksi Rara & Jaka, Tentang Kekosongan


Sudah beberapa hari berlalu sejak Rara mengalami sebuah peristiwa aneh namun menakjubkan dalam hidupnya. Saat ia merasa hilang, lebur dalam lautan energi jagad raya. Sirna, namun ia tetap bisa melihat segalanya. Sungguh itu adalah pengalaman menegangkan sekaligus damai yang luar biasa.

"Sayang..." Rara memanggil suaminya. "Bisa jelasin lagi kah, tentang sirna diri itu?"

"Hm?" jawab Jaka bergumam. Ia baru saja memejamkan mata, bersiap untuk tidur. 

"Jangan bobok dulu dong..." Rara merajuk. "Jelasin..." ia mulai menggoyang-goyang tubuh Jaka.

Mau tidak mau, Jaka jadi terbangun lagi. "Begini..." katanya, lalu minum beberapa teguk air sebelum melanjutkan.

"Aku pernah nonton sesuatu di Youtube. Di sana diperlihatkan, bahwa kalau sel di-zoom, maka akan ditemukan molekul DNA. Lalu kalau DNA di-zoom terus, maka akan ditemukan atom."

Rara diam saja. Sungguh pelajaran ilmu eksak itu sulit sekali menempel di serat-serat kelabu otaknya. 

"Begitu terus..." Jaka menyambung kalimatnya. "Dari atom akan bertemu elektron, dari elektron bertemu inti atom, dan dari inti atom akan bertemu quarks."

Rara masih diam. Berusaha mencerna apa yang sulit sekali dipahaminya. "Jangan pake fisika-fisikaan, ah!" protesnya sebal.

Jaka tertawa mendengarnya. "Mau tau ngga, apa yang akan ditemukan setelah quarks?"

Rara menggeleng pasrah.

"Tidak ada," Jaka menjawil dagu istrinya. "Setelah quarks diperbesar, yang ada hanya kekosongan."

Terkejut, Rara membuka mulutnya. Ia berkedip-kedip sebentar, lalu menutup mulutnya lagi. Tidak ada kata-kata kecuali kekaguman. "Is that so?"

"Well, if you'd like to have another research about it, go ahead," Jaka mengedipkan sebelah mata. "Aku mau bobok aja..." lanjutnya sambil memeluk guling dan memejamkan mata.

"Jangan bobok duluuu," Rara menggoyang-goyang tubuh Jaka lagi. 

"Duh, Ra..." Jaka menguap. "Pillow talk itu yang mesra dong, masa tentang atom," katanya melanjutkan tidur.

"Ya sudah, nanti kita mesra-mesraan," sang istri mengiming-imingi. Ia lalu mengecup satu bagian dari tubuh suaminya, yang ia tau amat sangat sensitif. 

Dan tentu saja berhasil, Jaka serta merta terlonjak dan meringis pasrah.

"Nanya apa lagi..?" tanyanya sembari duduk. Tidak hanya Rara, tapi satu bagian lain dari tubuhnya juga membutuhkan perhatian lebih. 

"Apa itu jadi alasan kenapa aku merasa hilang dan..." Rara mengingat-ingat lagi kejadiannya. "Dan takut pada awalnya?"

"Ketika ego kita diberitahu bahwa sejatinya diri ini adalah kosong, maka ketakutanlah yang muncul," Jaka menjawab lugas. "Karena ego selalu mengharap sesuatu, atau bersikap dualitas. Sehingga kosong baginya adalah menakutkan."

"Oh..." Rara membulatkan mulut dan mengangguk-angguk.

"Namun bagi hati, kosong adalah kabar yang menggembirakan," sang suami melanjutkan. "Karena baginya kosong adalah pintu menuju Ruhani yang non dualitas. Ia yang telah lelah dengan semua muatan rasa dualitas."

Kembali Rara mengangguk-angguk.

"Itulah sejatinya Rasa, dimana Rasa merasakan rasanya sendiri, hingga yang ada hanyalah Ananda, atau Bliss, atau peace in motion."

Kali ini Rara tersenyum. Itulah yang ia alami setelah detik-detik ketakutannya berlalu. Setelah hatinya mengambil alih ego dan rasa sejati itu muncul.

"Lebih jauh lagi, Kekosongan itu adalah makna dari surga yang sesungguhnya. Keadaan non dualitas yang damai," Jaka menjelaskan lagi. "Dan dengan demikian, neraka adalah suatu kondisi menyengsarakan karena masih terjebak dalam dualitas. Ini yang mengakibatkan siklus karma terus berjalan."

"Oh..." Rara melakukan itu lagi. Membuat Jaka tidak tahan mendengarnya dan lalu menciumnya. 

"Oh ah terus... Pelajaran selesai, deh!" katanya membawa istrinya untuk berbaring. "Mana dhaksina-ku?"

"Guru itu harus minta upeti, ya? Rara terkikik geli, sambil memasrahkan diri untuk dicumbu.

Tapi Jaka sudah tidak mampu berkata-kata lagi saking sibuknya...

********
Happy Friendavery to pak Guru Frank Al-Hamdi. Thank you for the inspiration :)

Baca lagi kisah kasih mereka di: Kumpulan Fiksi Rara & Jaka

1 komentar: